Ternyata Aku Phobia Sama Cicak Juga
26 Jun 2009 Leave a Comment
in Animal Tags: cicak, Lagi flu di musim panas, phobia
Judul postingannya bagus khan, kayaknya ada bakat bikin judul nih… sekalian dijadiin novel juga deh… Seperti postingan dari Onna sebelumnya, Onna selalu mengaitkan apa yang ada di judul dengan isi blog (prasaan smua orang juga begituw…)
Tentang cicak… makhluk itu kuning, kadang item, hobi berdesis, nongkrong (saya curiga kalo sebenarnya cicak itu lebih gaul dari manusia… hmmm….)… satu yang paling jelek dari cicak… permukaan kulit bawahnya yang pucat dan kelihatannya kenyal… ieeeek! sama mata hitamnya yang mirip dengan manik-manik gelang item ukuran kecil yang sudah kurusakkan waktu masih SD… (mama maap…). Awalnya saya adalah orang yang hidup dengan normal dan biasa-biasa saja dengan cicak… namun suatu hari di saat saya mau pergi les, somethin happen.. it happen really fast so I can’t do anything…
Bapak udah teriak2, aku masih nyari sendal… eh itu dia sandal gunungkuw yang besinya udah dilapisi pasir besi (keren khan… seperti mecha gitu deh)… tung! langsung ajah dipake… “Bapaak tunggu!” dengan manisnya saya berlari ke arah mobil… di mobil rasanya satu kakikuw adem banget deh.. asoy… sampe di tempat les pun kaki masih terasa adem… tapi kok lengket pula ya…
saya adalah orang sering penasaran, kalo nonton pilem pasti dihabisin dulu baru melakukan kegiatan laen, walopun pilemnya jelek banget… ketika aku menengok,, yaelah.. Astagfirullah… mantep, ada mayat di bawah kakikuw… mayatnya udah pucat banget, kulit punggung berwarna hitam kelam, tapi daerah perut pucat pasi… YUP benar! itu cicak item yang udah mati… dalam hati berharap bukan mati karena keinjak, moga2 dia udah mati duluan deh… Bayangkanlah… dengan penuh rasa horor saya mencari tisu (tentu saja dengan kekuatan supernatural, saya mampu melakukannya tanpa melihat….) lalu dengan tisu bekas ingus (kasian kamu cicak, udah mati keinjak, dibuang pake tisu bekas ingus pula) kuangkat cicak itu, penuh rasa jijik, mata ketutup… mantep, lengket2 asoy… hiiii dan secepat kilat kubuang…
kalo gitu kejadiannya gimana gak takut… sejak saat itu setiap kali meliat cicak, rasanya mau gila, aih2…
ceritanya gini, saat itu saya harus cepat2 siap2 untuk pergi ke rumah nenek, eh salah, les di LIA (Sir2! Hawayu…)
Phobia…. Sama… Kodok…
26 Jun 2009 Leave a Comment
in Animal, Uncategorized Tags: kodok, phobia
Jujur aja, 18 tahun saya hidup di dunia ini, nggak pernah saya suka sama binatang yang namanya kodok! Ieeeek… jijik banget! Tubuhnya yang berlendir, tangannya yang kecil, jari2nya yang bentuknya nggak jelas, apalagi kalo diliat mati di jalan! lebih baik saya lewat jalan yang rusak parah daripada yang bagus tapi ada kodoknya… Seandainya ajah ada orang yang peduli dengan nasib kaum pembenci kodok….
*Gambar tayangan Cerita Pagi yang biasa main di Trans tv pagi-pagi nongol, musiknya juga nongol…*
“Pemirsa, kejahatan bukan hanya bersumber dari dendam manusia, tapi juga karena ketakutan. Gara-gara kodok, seorang gadis remaja membuat rugi temannya sendiri. Seorang remaja, sebut saja dia dengan Ephi telah menjadi korban ketakutan sahabatnya sendiri, sebut saja dia dengan Nana. Tak disangka, sahabat baiknya itu telah merusakkan sepedanya dengan kejam hanya karena alasan… TAKUT PADA KODOK. Mari kita dengar kesaksian dari tersangka sendiri, sebagai berikut:
Adegan diperagakan oleh model….
Ceritanya terjadi di suatu siang, saat itu matahari bersinar terik. Saya dan teman saya, sebut saja dia dengan Ephi (nama disamarkan), sedang bersepeda ria (pantesan item) di sekitar kompleks. Tiba-tiba radar ‘kodok kering’ saya menangkap sinyal adanya kodok kering di depan sana (sumpah! waktu kecil, kalo ada kodok kering biar sejauh apapun pasti keliatan). Saya benar-benar merasa takut kala itu sehingga saya mengambil tindakan super nekat, MENUTUP MATA. Disinilah terjadi kecelakaan itu, saya menabrak tumpukan batu bata sehingga ban sepedanya bengkok. Semua salah kodok itu, kenapa dia harus mati dan membangkai di jalanan? Saya merasa tidak bersalah! SAYA MINTA PENGACARA SAYA!
*Layar langsung blackout*
Itu tadi bukan rekaan, tapi cerita beneran yang saya alami waktu masih SD. kadang ada juga manfaatnya. Gara-gara phobia, saya pernah mencetak rekor terbaik lari dari rumah tetangga yang jaraknya dua rumah dari rumahq dalam waktu kurang dari semenit. Mungkin ini terdengar sepele tapi yang bikin spesial adalah…. saya lari sambil tutup mata. otomatis saya nggak melihat jalan. Saya nggak jatuh ke got, nggak jatuh di jalan offroad (waktu SD, jalanan di kompleks masih berbatu) serta tidak nabrak pohon, orang, tiang listrik, pot bunga, tetangga yang lagi nyiram bunga… SAYA BANGGA, BANGGA SAYA….
Seiring berjalannya waktu, phobia sama kodok itu lama-lama agak berkurang walopun tiap kali liat kodok mati pengen teriak dan bulu kuduk merinding. Radar ‘kodok mati’ juga masih aktif. Tapi waktu kelas 2 SMA, saya mengalami masa kejayaan dalam sejarah ketakutan saya terhadap kodok. Saya berhasil membelah kodok! Hebat kan? Meskipun nggak sehebat guruq yang dengan tenangnya memotong kaki kodok tanpa sarung tangan dan bius.
Gini ceritanya. Yang namanya SMA pastilah ada praktek biologi. Nah, waktu itu saya praktek mengenai kodok, dah lupa apa tujuannya. Pertama-tama, kodoknya dibius dulu supaya nggak kasian dan kesakitan waktu diamputasi kakinya. Temanku, Depe, kebagian tugas membius kodok. Waktu kodoknya dibius, dia loncat! Hal ini juga terjadi pada kelompok lain sehingga satu kelas jadi gaduh, cewek-cewek berlompatan dan histeris, cowok-cowok sibuk menangkap kodok, ada juga yang lari keluar kelas, contohnya: SAYA. sebisa mungkin saya menghindari kontak dengan kodok itu, tangan maupun kaki. tangan: disuruh nangkepin, kaki: nggak sengaja keinjak waktu lari.
Akhirnya karena dimarahin dan diancam nggak bakal dikasih praktek lagi, teman-temanq menjadi tenang dan acara panen kodok jadi lancar. Depe masih aja sibuk membius kodok dengan jalan menusuk-nusuk leher kodok (emang ada lehernya ya? auk ah!) dengan jarum. Karena agak lama, bu Rukayah (I love her! she’s one of my best teacher, since she always get us into lab), guru biologiq langsung memotong usaha DP sekaligus kaki kodok yang belum selesai dibius itu, TANPA SARUNG TANGAN! oh… my…. Gawd…. Ya Allah, SCREAM PLUS TEXAS CHAINSAW MASSACRE EPISOD TERBARU DAH TAYANG DI DEPAN MATA. Pemandangan berdarah itu membuat jiwa psycho saya jadi bangkit! Saya kebagian tugas mengikat kaki kodok itu di pramodel sistem peredaran (waktu itu kita kekurangan alat penyangga). Pikirnya nggak bakalan sanggup megangnya, ternyata berjalan lancar. bahkan saya membelah sendiri kodok malang itu dan mengorek-ngorek isi perutnya yang dipenuhi telur kodok yang super amis… Tapi selesai percobaan, saya jadi takut lagi dan memohon pada Depe supaya menutup kodok itu dengan tisu seperti mayat pada umumnya.
Satu hal yang saya dapat tangkap dari peristiwa tadi, TIPS PRAKTIKUM BIOLOGI EDISI KE-100: MEMBELAH KODOK, ditujukan untuk siswa-siswi pembenci kodok. Kalo kamu punya phobia terhadap kodok dan diharuskan untuk membelahnya saat praktikum…. BANGKITKAN JIWA PSIKOPAT KAMU…. bisa dengan baca komik serem, bisa dengan nonton film-film berbau psikopat (disarankan film barat), bisa dengan baca novel ato membantu ibu memotong sayur dan lauk di rumah. Dijamin kamu bakal melupakan phobia kamu sesaat dan praktikum berjalan lancar. Peringatan: hati-hati, jangan kelewatan. Kami tidak menjamin kalo suatu saat kalian jadi psikopat….
TApi nggak tau kenapa, phobia katak saya jadi kambuh lagi. seminggu yang lalu, saya iseng-iseng membaca buku adekq, Nano, tentang binatang langka. BUSEEET…. saya melihat foto katak pohon warnaijomatamerahsepertidibukubiologi dan langsung saja… Saya melempar buku itu sambil jerit-jerit histeris! Alhamdulillah, lab yang kuambil baru2 ni cuman pake tikus, mencit n klinci doang… amiiiin…


